Headline.co.id, Anggota Polres Situbondo ~ Jawa Timur, bersama personel Kodim 0823, pemerintah desa, dan masyarakat setempat bergotong royong membangun jembatan darurat dari kayu dan bambu. Jembatan ini dibangun karena jembatan antardesa yang menghubungkan Desa Patemon dan Desa Wringinanom, Kecamatan Jatibanteng, terputus akibat banjir bandang pada Rabu (21/1) lalu. Banjir tersebut terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Kapolres Situbondo, AKBP Bayu Anuwar Sidiqie, menyatakan bahwa pembangunan jembatan sementara ini menjadi prioritas utama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. “Pembangunan jembatan sementara ini merupakan prioritas utama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga mobilitas warga yang sempat terhambat pasca-banjir bisa kembali normal,” ujar Kapolres Situbondo, Selasa (27/1/2026).
Menurut Kapolres, jembatan darurat ini dibangun dengan alat seadanya, memanfaatkan bambu dan kayu, serta melibatkan warga yang bergotong royong menyusun landasan jembatan agar bisa segera dilalui. “Pembangunan jembatan darurat yang menjadi akses utama warga Desa Patemon dan Desa Wringinanom itu menggunakan alat seadanya serta memanfaatkan bambu dan kayu,” jelas Kapolres.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo mencatat bahwa banjir bandang yang terjadi pada Rabu (21/1) malam berdampak pada 7.435 unit rumah di enam kecamatan. Kecamatan Banyuglugur mengalami dampak paling parah dengan 1.271 unit rumah terdampak, tersebar di Desa Kalianget sebanyak 1.065 rumah, Desa Banyuglugur 65 rumah, Desa Lubawang 140 rumah, dan Desa Tepos satu rumah.
Selain itu, Kecamatan Besuki juga mengalami dampak parah dengan 5.414 rumah terdampak, tersebar di Desa Pesisir 2.822 rumah, Desa Kalimas 238 rumah, Desa Demung 44 rumah, Desa Besuki 2.306 rumah, dan Desa Bloro empat rumah. Hujan deras juga menyebabkan luapan sungai yang menggenangi 113 rumah di Desa Mlandingan Wetan, Kecamatan Bungatan.
Di Kecamatan Mlandingan, sebanyak 402 unit rumah terdampak, tersebar di Desa Selomukti 305 rumah dan Desa Mlandingan Kulon 97 rumah. Sementara itu, di Desa/Kecamatan Kendit terdapat 227 rumah terdampak, dan di Desa Curah Suri, Kecamatan Jatibanteng, terdapat delapan rumah yang terdampak.








