Headline.co.id, Pekanbaru ~ Tari Zapin tidak hanya dikenal sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai simbol kehidupan yang mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat Melayu Riau. Melalui gerakan, irama, dan busana, Zapin menyampaikan pesan tentang kesantunan, kehormatan, serta pengaruh nilai-nilai Islam yang telah mengakar dalam budaya setempat.
Tania Dwika Putri, seorang pegiat seni dari Sanggar Tengkah Zapin, menjelaskan bahwa busana dalam Tari Zapin memiliki makna budaya yang mendalam. Menurutnya, pakaian penari tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap visual, tetapi juga mencerminkan adab dan etika masyarakat Melayu. “Busana penari Zapin sangat erat dengan nilai budaya Melayu. Penari laki-laki umumnya mengenakan baju kurung atau teluk belanga, sementara penari perempuan menggunakan kebaya yang melambangkan kesopanan dan adab,” ujarnya di Pekanbaru, Sabtu (10/1/2026).
Ia menambahkan bahwa kain samping yang dikenakan di pinggang penari merupakan simbol kehormatan dan marwah. Sementara itu, penggunaan aksesori seperti tanjak atau hiasan kepala ditampilkan secara sederhana sebagai penegasan bahwa kemuliaan Melayu tidak bertumpu pada kemewahan. “Kain samping melambangkan kehormatan, sedangkan aksesori digunakan secara sederhana. Ini menunjukkan bahwa Zapin tidak hanya menampilkan keindahan, tetapi juga etika kehidupan,” katanya.
Tania juga menyoroti bahwa Tari Zapin mencerminkan proses akulturasi budaya Melayu dan pengaruh Arab yang masuk seiring penyebaran Islam. Hal ini terlihat pada pola gerak kaki yang ritmis, penggunaan alat musik gambus dan marwas, serta syair lagu yang sarat dengan pesan religius. “Pengaruh budaya Arab masih terasa, tetapi di Riau unsur tersebut telah berakulturasi dengan budaya Melayu sehingga melahirkan Zapin yang khas dan membumi,” ujarnya.
Ketua Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat Melayu Riau, Taufik Ikram Jamil, juga menyampaikan pandangannya mengenai konsistensi busana Zapin dari masa lalu hingga kini yang menunjukkan kuatnya nilai tradisi tersebut. “Sejak dulu, busana seperti cekak musang dan kebaya labuh kekek sudah digunakan dalam Tari Zapin,” ujarnya.
Menurut Taufik, kebertahanan busana tradisional itu tidak terlepas dari nilai-nilai Islam yang menekankan kesopanan dan keindahan yang seimbang. Zapin, kata dia, menjadi media pewarisan nilai budaya dan spiritual yang tetap relevan di tengah perubahan zaman. Dalam pandangan LAM Riau, setiap pementasan Zapin merupakan upaya menjaga identitas budaya Melayu agar tetap hidup dan dipahami oleh generasi muda. Melalui keselarasan gerak, busana, dan makna, Zapin diharapkan terus menjadi pengingat akan pentingnya adab, nilai leluhur, dan jati diri masyarakat Riau.






















