Headline.co.id, Pekanbaru ~ Kesenian Zapin di Riau tidak hanya menonjolkan keindahan gerak tari, tetapi juga mencerminkan proses panjang akulturasi budaya. Salah satu jejak kuat pertemuan budaya tersebut terlihat pada penggunaan gambus sebagai alat musik utama pengiring Tari Zapin Melayu. Pegiat seni Riau, Hendra Burhan, menjelaskan bahwa Zapin Melayu tidak dapat dipisahkan dari pengaruh budaya Arab yang masuk ke wilayah Melayu sejak abad ke-16. Pengaruh ini paling nyata terlihat pada penggunaan gambus dalam iringan musik Zapin.
“Karena cikal bakal Zapin Melayu berasal dari Arab, tanda-tanda pengaruh itu tidak bisa dihilangkan. Salah satunya terlihat pada alat musik gambus selodang,” ujar Hendra di Kota Pekanbaru, Minggu (11/1/2026). Menurutnya, keberadaan gambus selodang merupakan bukti nyata bahwa Zapin adalah hasil pertemuan budaya luar dengan kearifan lokal Melayu. Proses tersebut, kata Hendra, menunjukkan kecerdasan leluhur Melayu dalam mengolah pengaruh asing menjadi identitas budaya yang khas.
“Gambus oud dari Arab memiliki badan yang lebih besar. Dengan kepiawaian dan kecerdasan orang Melayu, bentuk itu kemudian melahirkan gambus selodang,” jelasnya. Ia menambahkan, masyarakat Melayu dikenal menjadikan alam sebagai sumber inspirasi dalam menciptakan karya seni. Hal itu tercermin dari bentuk gambus selodang yang menyerupai seludang mayang atau pembungkus bunga pada pohon kelapa. “Gambus selodang adalah proses berpikir orang Melayu. Bentuknya terinspirasi dari alam sekitar, sehingga memiliki identitas yang kuat,” ungkapnya.
Bagi Hendra, kreativitas tersebut membuktikan bahwa budaya Melayu tidak sekadar menerima pengaruh luar, tetapi memberi makna baru yang selaras dengan nilai dan lingkungan setempat. Karena itu, ia menekankan pentingnya generasi muda memahami sejarah dan filosofi Zapin serta gambus selodang. “Pelajari yang aslinya, kemudian kembangkan dan kemas sesuai zaman, tanpa menghilangkan identitas aslinya,” pesannya.
Sebagai informasi, gambus selodang awalnya digunakan untuk mengiringi Tari Zapin di lingkungan istana Siak dan rumah-rumah bangsawan. Seiring waktu, alat musik ini berkembang dan digunakan dalam berbagai pertunjukan serta acara hiburan masyarakat. Gambus selodang umumnya dibuat dari satu batang kayu utuh, seperti kayu nangka, cempedak, seminai, atau leban. Bagian badan yang berongga ditutup dengan kulit lembu, kerbau, atau kambing yang telah diproses tipis sebagai resonator.
Alat ini memiliki tujuh dawai yang direntangkan dari ekor gambus hingga kepala, dengan pasak atau telinga sebagai pengatur nada. Dawai biasanya terbuat dari senar gitar atau nilon, sementara pemetiknya dahulu dibuat dari tanduk kerbau dan kini banyak digantikan dengan bahan plastik. Dengan nilai sejarah, filosofi, dan keunikan bentuknya, gambus selodang tidak hanya berfungsi sebagai alat musik, tetapi juga menjadi simbol kreativitas dan identitas budaya masyarakat Melayu Riau yang terus dijaga dan diwariskan lintas generasi.






















