Headline.co.id, Denpasar ~ Pemerintah menyiapkan peta jalan pemerataan pusat data AI hingga Indonesia timur dengan memperkuat perencanaan lokasi, pasokan energi, konektivitas cadangan, dan perizinan. Langkah tersebut disiapkan untuk memperluas pembangunan pusat data swasta yang selama ini masih terkonsentrasi di wilayah barat Indonesia. Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Wayan Toni Supriyanto menyampaikan rencana itu dalam diskusi panel Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Bali, Selasa (20/10/2026). Pemerataan ini ditujukan untuk membuka peluang investasi infrastruktur digital sekaligus mendukung kebutuhan ekonomi digital dan pengembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) hingga 2030.
Wayan mengatakan pembangunan pusat data memerlukan perencanaan terpadu yang mempertimbangkan kesiapan pasar, ketersediaan sumber daya, pasokan energi, serta dukungan konektivitas nasional dan internasional.
“Kami perlu memprioritaskan kawasan-kawasan tertentu dengan mempertimbangkan kebutuhan pemerintah, industri, dunia pendidikan, dan layanan publik. Selain itu, pasokan energi dan kesesuaian lokasi juga merupakan hal penting,” ujar Wayan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pusat Data AI Tidak Hanya Bergantung pada Investasi
Menurut Wayan, pengembangan pusat data tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan investasi dan pembangunan fisik. Setiap lokasi harus memiliki ekosistem pendukung yang memadai agar pusat data dapat beroperasi secara andal dan memenuhi kebutuhan pengguna.
Pemerintah menyiapkan regulasi terkait kabel bawah laut dan pusat data. Rancangan Peraturan Presiden mengenai kedua aspek tersebut telah disiapkan dan sedang memasuki tahap konsultasi publik.
Dalam proses tersebut, pemerintah membutuhkan masukan dari industri, instansi pemerintah, dan perusahaan swasta untuk menyempurnakan kebijakan yang akan menjadi bagian dari pengembangan infrastruktur pusat data.
Pemerataan investasi juga akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan perkembangan pasar serta kesiapan ekosistem di setiap wilayah. Sejumlah kawasan di luar Jawa, termasuk Sulawesi dan Kupang, dapat menjadi bagian dari pertimbangan pengembangan sesuai potensi dan kebutuhan pasarnya.
Konektivitas Cadangan Disiapkan untuk Indonesia Timur
Pemerintah menempatkan konektivitas cadangan sebagai salah satu komponen penting dalam memperluas pusat data ke Indonesia bagian timur. Jalur alternatif disiapkan menuju pusat konektivitas nasional dan internasional agar pusat data di luar Jawa dan Batam tidak berdiri sebagai fasilitas yang terisolasi.
“Untuk mendorong pembangunan pusat data di Indonesia bagian timur, kami juga menyediakan konektivitas cadangan menuju pusat konektivitas nasional dan internasional. Dengan begitu, pusat data di luar Jawa dan Batam tidak menjadi fasilitas yang terisolasi,” jelas Wayan.
Menurut pemerintah, dukungan konektivitas cadangan dibutuhkan untuk membangun jaringan pusat data yang tangguh. Dengan adanya jalur alternatif, layanan digital di berbagai wilayah diharapkan tetap memiliki konektivitas yang andal dan tidak bergantung pada satu jalur jaringan saja.
Wayan menegaskan, pemerintah juga perlu memastikan koordinasi kesiapan pasokan listrik, gardu induk, ketersediaan air untuk sistem pendinginan, serta mitigasi risiko bencana. Penyederhanaan perizinan menjadi perhatian lain agar pembangunan infrastruktur digital dapat berjalan lebih efektif.
Koordinasi lintas pihak diperlukan untuk memastikan kesiapan lokasi dan kepastian investasi. Pihak yang perlu terlibat lain pemerintah pusat, pemerintah daerah, PLN, operator jaringan, instansi yang menangani pertanahan, serta investor.
“Koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, PLN, operator jaringan, instansi yang menangani pertanahan, serta investor sangat diperlukan. Kolaborasi ini penting untuk memberikan kepastian mengenai ketersediaan lahan dan biaya,” ungkap Wayan.
Infrastruktur AI Membutuhkan Daya Besar
Wayan menyampaikan pengembangan pusat data untuk mendukung AI memerlukan kesiapan infrastruktur secara menyeluruh. Pasokan listrik yang andal, kapasitas daya yang memadai, ketersediaan air, serta konektivitas berkapasitas tinggi menjadi prasyarat untuk menopang beban kerja AI yang membutuhkan energi besar.
Perencanaan pengembangan infrastruktur tersebut juga perlu dilakukan lintas sektor dengan melibatkan pemerintah, industri, dan dunia pendidikan. Kemampuan kontraktor dalam negeri serta asesmen terhadap kesiapan jaringan dan pasokan listrik turut menjadi aspek yang perlu diperhatikan untuk mendukung pengembangan AI Factory dan infrastruktur digital nasional.
“Kita membutuhkan konektivitas berkapasitas tinggi untuk mendukung AI. Kita juga harus memastikan tidak ada lagi keterlambatan dan kekurangan kapasitas koneksi, baik pada jaringan backbone, jaringan penghubung, maupun jaringan akses,” tegas Wayan.
Melalui perencanaan lokasi, penguatan konektivitas, kepastian pasokan energi, dan koordinasi lintas sektor, pemerintah berupaya memperluas pusat data ke berbagai wilayah Indonesia. Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong investasi infrastruktur digital yang lebih merata serta memperkuat kesiapan Indonesia menghadapi kebutuhan ekonomi digital dan pengembangan AI hingga 2030.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















