Headline.co.id, Lumajang ~ Kapulaga dari Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menembus pasar internasional melalui aktivitas budidaya dan ekspor yang dijalankan petani setempat. Pada 2024, produksi kapulaga Senduro mencapai sekitar 2.034.373 kilogram dari luas panen sekitar 149,65 hektare. Sentra produksi di lereng Gunung Semeru itu memasok kebutuhan pasar global karena kapulaga digunakan untuk industri makanan, minuman, farmasi, kosmetik, dan produk kesehatan. Komoditas tersebut diekspor secara rutin melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dengan volume sekitar 17–20 ton setiap dua minggu.
Desa Senduro dan Desa Kandangtepus menjadi wilayah penghasil kapulaga yang penting di Kecamatan Senduro. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lumajang, produksi kapulaga di kecamatan itu menyumbang sekitar 73 persen dari total produksi kapulaga Kabupaten Lumajang pada 2024.
Total produksi kapulaga Kabupaten Lumajang pada tahun tersebut mencapai sekitar 2.795.021 kilogram. Dengan capaian itu, Kecamatan Senduro menjadi sentra produksi kapulaga terbesar di Kabupaten Lumajang sekaligus salah satu kawasan yang berperan dalam rantai pasok rempah nasional.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Produksi Kapulaga Senduro Capai 2 Juta Kilogram
Kapulaga tumbuh di kawasan berhawa sejuk dengan dukungan tanah vulkanik yang subur di lereng Gunung Semeru. Selain kondisi geografis, kualitas komoditas juga ditopang pengalaman petani yang diwariskan secara turun-temurun.
Pemerintah Kabupaten Lumajang mencatat kapulaga berkembang pesat di sejumlah wilayah berhawa sejuk, lain Kecamatan Senduro, Pasrujambe, dan Gucialit. Khusus di Kecamatan Senduro, potensi lahan untuk pengembangan kapulaga mencapai sekitar 2.701 hektare, menjadikannya wilayah dengan pengembangan kapulaga terbesar di Kabupaten Lumajang.
Kapulaga tidak hanya dimanfaatkan sebagai bumbu masakan. Tanaman dari keluarga Zingiberaceae tersebut juga menjadi bahan baku berbagai industri, mulai dari makanan dan minuman hingga farmasi serta kosmetik. Beragamnya pemanfaatan itu membuat kapulaga memiliki nilai ekonomi dan permintaan di pasar internasional.
Data Kementerian Pertanian mencatat produksi kapulaga Indonesia pada 2021 mencapai 124.766 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 10.462 ton diekspor dengan nilai sekitar 76,79 juta dolar Amerika Serikat atau setara sekitar Rp1,38 triliun.
Sementara itu, data perdagangan internasional menunjukkan nilai ekspor kapulaga Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 51,6 juta dolar Amerika Serikat atau setara sekitar Rp930 miliar. China menjadi pasar tujuan terbesar, disusul Jerman, Thailand, Singapura, dan sejumlah negara lainnya.
Petani Bertahan di Tengah Fluktuasi Harga
Bagi petani Desa Senduro, Satimin, kapulaga menjadi sumber penghidupan sekaligus usaha yang menuntut ketekunan. Ia mulai membudidayakan kapulaga sejak 2010 dan memilih tetap menanam meskipun harga komoditas perkebunan mengalami fluktuasi.
“Kapulaga Senduro banyak diminati pasar internasional. Itu yang membuat kami tetap semangat menanam,” ujar Satimin.
Menurut dia, hasil panen petani umumnya dibeli oleh pengepul sebelum dipasarkan ke berbagai negara. Permintaan yang terus berdatangan mendorong petani untuk mempertahankan kualitas hasil panen.
Satimin mengingatkan petani agar tidak terburu-buru mengganti tanaman hanya karena harga sedang turun. Ia menilai keberlanjutan usaha membutuhkan kesabaran dan ketelatenan.
“Yang penting telaten dan banyak bersyukur. Jangan sering membongkar tanaman hanya karena harga. Kalau usaha dijalani dengan sabar, hasilnya akan datang,” tuturnya.
Panen Dua Kali Setahun dan Diekspor ke Berbagai Negara
Harapan serupa disampaikan Toyo, petani kapulaga asal Desa Kandangtepus. Ia menilai kapulaga masih menjadi salah satu komoditas yang menjanjikan karena perawatannya relatif mudah dan tanaman tersebut dapat dipanen hingga dua kali dalam setahun.
“Perawatannya mudah, panennya bisa dua kali setahun. Selama dirawat dengan baik, saya tidak pernah merasa rugi menanam kapulaga,” katanya.
Dari sisi perdagangan, Pemerintah Kabupaten Lumajang mencatat ekspor kapulaga dari daerah itu mencapai sekitar 17–20 ton setiap dua minggu melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Kapulaga tersebut dipasarkan ke China, Singapura, Belanda, hingga sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Aktivitas ekspor itu menunjukkan kapulaga dari Senduro telah masuk ke rantai perdagangan rempah dunia. Bagi masyarakat setempat, komoditas tersebut tidak hanya bernilai sebagai produk pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari identitas daerah dan sumber penghidupan petani di lereng Gunung Semeru.
Melalui kebun-kebun yang berada di bawah rindangnya pepohonan, petani Senduro mempertahankan budidaya kapulaga di tengah perubahan harga dan tuntutan kualitas pasar. Dari wilayah tersebut, rempah yang memiliki sejarah panjang dalam perdagangan Nusantara terus dipasok ke pasar internasional.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















