Headline.co.id, Jember ~ Kementerian Kesehatan memperluas deteksi dini tuberkulosis (TB) hingga lingkungan keluarga dan kontak erat pasien untuk mempercepat penemuan kasus serta mencegah penularan. Langkah ini diperkuat melalui sinergi Program Homecare Pemerintah Kabupaten Jember dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan pemeriksaan foto rontgen. Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menyampaikan kebijakan tersebut saat meresmikan Program Homecare “Mewujudkan Dokter Keluarga untuk Masyarakat Tidak Mampu” di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (24/7/2026). Perluasan pemeriksaan dilakukan karena orang yang tinggal serumah atau memiliki kontak erat dengan pasien TB kerap belum menjalani pemeriksaan.
Kontak Erat Pasien TB Menjadi Sasaran Pemeriksaan
Benjamin mengatakan pengobatan bagi pasien TB selama ini telah berjalan dengan baik. Namun, penemuan kasus dan pencegahan penularan masih menghadapi tantangan karena anggota keluarga atau orang yang sering berinteraksi dengan pasien belum seluruhnya diperiksa.
“Selama ini pengobatan pasien TB sudah berjalan dengan baik, tetapi tantangannya adalah orang yang tinggal serumah atau kontak erat sering kali belum diperiksa,” kata Benjamin seperti dikutip , Sabtu (25/7/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Menurut Benjamin, pendekatan berbasis keluarga penting karena Indonesia masih menghadapi beban kasus TB yang tinggi. Melalui pemeriksaan terhadap kontak erat, pasien yang diduga menderita TB dapat ditemukan lebih cepat dan segera memperoleh pengobatan.
Program Homecare yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Jember dinilai dapat memperkuat program prioritas Kemenkes, termasuk CKG. Pemeriksaan foto rontgen dalam program tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi TB pada kontak erat pasien.
Pada 2026, Kemenkes melaksanakan CKG dengan pemeriksaan foto rontgen di 53.335 lokasi di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 228 lokasi berada di Kabupaten Jember.
Terapi Pencegahan untuk Kontak Erat
Pemerintah juga menyediakan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi anggota keluarga atau kontak erat yang belum menunjukkan gejala. Terapi tersebut diberikan untuk mencegah infeksi berkembang menjadi penyakit TB aktif.
Benjamin menjelaskan, kuman TB dapat berada di dalam tubuh seseorang sebelum kemudian menimbulkan penyakit. Karena itu, pemberian terapi pencegahan sejak awal dinilai penting untuk memutus rantai penularan.
“Yang sakit kita obati, sedangkan yang belum sakit kita berikan obat pencegahan. Kuman TB bisa berada di dalam tubuh seseorang dan baru menimbulkan penyakit satu sampai dua tahun kemudian. Kalau diberikan terapi pencegahan lebih awal, kita bisa memutus rantai penularan sebelum penyakit berkembang,” jelas Benjamin.
Ia mendorong masyarakat yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TB untuk memanfaatkan layanan pemeriksaan yang disediakan pemerintah. Benjamin juga menekankan bahwa keberhasilan eliminasi TB tidak hanya bergantung pada fasilitas pelayanan kesehatan.
Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat memiliki peran dalam menemukan kasus secara aktif. Mereka juga diperlukan untuk memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas.
Homecare Menjangkau Warga hingga Rumah
Wakil Bupati Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Iwan Sumule mengatakan, perluasan pelayanan kesehatan hingga tingkat rumah tangga turut mendukung percepatan pengentasan kemiskinan.
Menurut Iwan, kondisi kesehatan masyarakat berkaitan dengan produktivitas dan kesejahteraan keluarga. Ketika akses layanan kesehatan terbatas, masyarakat berisiko kehilangan produktivitas dan menghadapi peningkatan beban pengeluaran rumah tangga.
“Ketika masyarakat tidak memperoleh akses layanan kesehatan yang memadai, risiko kehilangan produktivitas meningkat, beban pengeluaran rumah tangga bertambah, bahkan dapat mendorong keluarga jatuh atau kembali ke dalam kemiskinan,” kata Iwan.
Dukungan terhadap penguatan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat juga disampaikan Anggota Komisi VI DPR RI Kawendra Lukistian. Ia menilai Program Homecare menunjukkan pentingnya kolaborasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar akses layanan kesehatan semakin mudah.
“Program Homecare menjadi contoh bagaimana pelayanan kesehatan dapat semakin dekat dengan masyarakat,” ujar Kawendra.
Homecare Berawal dari Evaluasi Akses Kesehatan
Bupati Jember Muhammad Fawait menjelaskan, Program Homecare disusun setelah pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap akses layanan kesehatan masyarakat. Evaluasi tersebut dilakukan setelah seluruh masyarakat tidak mampu memperoleh perlindungan melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Hasil evaluasi menunjukkan masih banyak warga yang belum memanfaatkan layanan kesehatan karena terkendala biaya transportasi maupun akses menuju fasilitas kesehatan. Kondisi itu mendorong pemerintah daerah menghadirkan pelayanan langsung ke rumah warga.
“Karena itu tenaga kesehatan akan datang langsung ke rumah-rumah warga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dasar, memberikan edukasi, serta memanfaatkan telemedicine apabila diperlukan konsultasi dengan dokter,” ujar Fawait.
Sinergi Program Homecare dan CKG dengan pemeriksaan foto rontgen diharapkan memperkuat deteksi dini TB, mempercepat penemuan kasus aktif, serta memperluas pemberian terapi pencegahan bagi kontak erat. Upaya tersebut ditujukan untuk membantu memutus rantai penularan TB di masyarakat.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















