Headline.co.id, Jakarta ~ Air demineral menjadi salah satu pilihan air minum yang banyak digunakan, tetapi keamanan konsumsinya setiap hari bergantung pada sumber dan proses pengolahannya. Penjelasan mengenai air demineral ini dimuat di Jakarta pada 7 Oktober 2026, dengan merujuk studi Frantisek Kozisek dari National Institute of Public Health di Republik Ceko. Air tersebut telah melalui proses penghilangan sebagian besar atau hampir seluruh mineral terlarut, sehingga kandungan total padatan terlarut atau total dissolved solids (TDS) menjadi sangat rendah. Karena itu, kelayakannya sebagai air minum ditentukan oleh proses pengolahan, pengujian, serta pemenuhan standar air minum.
Air demineral adalah air yang mineral terlarutnya telah dihilangkan melalui proses pemurnian. Mineral yang dapat berkurang lain kalsium, magnesium, natrium, dan kalium. Selain mineral, proses tersebut juga dapat mengurangi zat terlarut lain yang terdapat di dalam air.
Namun, air yang memiliki tingkat kemurnian tinggi tidak otomatis menjadi pilihan ideal untuk konsumsi harian. Kandungan mineral esensial pada air demineral yang belum mengalami remineralisasi sangat rendah. Kondisi itu menjadi salah satu alasan air demineral umumnya tidak dianggap sebagai satu-satunya sumber air minum untuk jangka panjang.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Air demineral dibuat melalui sejumlah metode
Air demineral dapat diproduksi melalui beberapa metode pemurnian. Cara yang digunakan meliputi distilasi, deionisasi, filtrasi membran dengan teknologi osmosis balik atau reverse osmosis (RO), nanofiltrasi, dan elektrodialisis.
Pemilihan metode biasanya disesuaikan dengan tujuan pemurnian serta tingkat kemurnian yang dibutuhkan. Dalam kegiatan industri, distilasi dan deionisasi umum digunakan untuk menghasilkan air dengan tingkat kemurnian tinggi. Sementara itu, sistem RO lebih sering ditemukan pada penggunaan komersial maupun rumah tangga.
Perbedaan metode tersebut membuat karakteristik air yang dihasilkan dapat berbeda. Tingkat kemurnian air tidak hanya ditentukan oleh berkurangnya mineral, tetapi juga oleh sumber air, proses pengolahan, dan pengujian yang dilakukan setelahnya.
Penghilangan mineral tidak sama dengan disinfeksi
Air demineral tidak selalu sama dengan air yang telah didisinfeksi. Penghilangan mineral saja tidak otomatis menjamin air bebas dari semua mikroorganisme atau kontaminan.
Karena itu, keamanan air demineral tidak dapat dinilai hanya dari rendahnya kandungan mineral atau TDS. Air tersebut perlu dilihat berdasarkan sumbernya, proses pengolahannya, pengujian yang dilakukan, dan apakah telah memenuhi standar air minum.
Dengan kata lain, air yang tampak sangat murni belum tentu langsung dapat dianggap aman untuk dikonsumsi apabila proses pengolahan dan pengujiannya tidak diketahui. Aspek keamanan tetap menjadi pertimbangan utama sebelum air digunakan sebagai air minum.
Remineralisasi dapat dilakukan setelah pemurnian
Air hasil desalinasi menjadi salah satu contoh air yang dapat ditambahkan kembali mineral tertentu setelah proses penghilangan garam. Proses penambahan mineral itu disebut remineralisasi.
Meski demikian, komposisi air hasil remineralisasi dapat berbeda-beda. Air tersebut juga belum tentu menyediakan semua mineral dalam jumlah yang signifikan. Karena itu, keberadaan mineral tambahan tidak serta-merta berarti air tersebut memenuhi seluruh kebutuhan mineral tubuh.
Mineral dari air minum memang berkontribusi terhadap asupan tubuh, tetapi sebagian besar kebutuhan mineral umumnya dipenuhi melalui makanan. Dengan demikian, air demineral tanpa mineral tidak serta-merta “menguras” mineral dari tulang atau sel tubuh.
Fokus pada keamanan dan pola makan seimbang
Konsumsi air demineral perlu disesuaikan dengan informasi mengenai sumber, pengolahan, pengujian, serta petunjuk penggunaan dari produsen. Air demineral yang belum mengalami remineralisasi tidak dianggap sebagai pilihan ideal untuk menjadi satu-satunya sumber air minum dalam jangka panjang karena kandungan mineral esensialnya sangat rendah.
Di sisi lain, rendahnya kandungan mineral tidak berarti air tersebut otomatis berbahaya atau menyebabkan mineral tubuh tersedot. Penilaian terhadap air demineral tetap harus berfokus pada keamanan air dan kepatuhannya terhadap standar air minum.
Selain memilih air yang aman, kebutuhan mineral juga perlu diperhatikan melalui pola makan seimbang. Petunjuk penggunaan dari produsen menjadi acuan penting, terutama untuk mengetahui proses pengolahan dan karakteristik air demineral yang dikonsumsi.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















