Headline.co.id, Malang ~ Kontingen Pramuka Santri Papua Barat menempuh perjalanan laut selama empat hari menuju Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 di Malang. Terdiri atas delapan peserta dan dua pendamping, mereka tetap berlatih di atas kapal dan di pelabuhan saat transit karena waktu persiapan yang terbatas. Kontingen tersebut tiba di Surabaya sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan bus ke lokasi perkemahan di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang, Malang. Latihan dilakukan untuk mempersiapkan peserta menghadapi berbagai perlombaan berskala nasional dalam PPSN VI.
Berlatih di Kapal dan Pelabuhan Transit
Perjalanan panjang dari Papua menuju Jawa tidak membuat para peserta menghentikan persiapan. Di tengah perjalanan laut, mereka tetap berlatih untuk mengikuti rangkaian perlombaan dalam PPSN VI.
Salah satu pendamping kontingen Papua Barat, Aufi Najamulya, mengatakan latihan dilakukan setiap malam, termasuk ketika kapal bersandar di pelabuhan transit. Ia menyampaikan hal itu saat ditemui di lokasi PPSN VI di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang, Malang, Sabtu (3/10/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Anak-anak latihannya di atas kapal. Setiap malam di pelabuhan saat transit, mereka latihan,” ujar Aufi.
Latihan bahkan dilakukan di pinggir pelabuhan Bau-Bau. Para peserta membongkar pion ring untuk berlatih sebelum kembali melanjutkan perjalanan menggunakan kapal.
Menurut Aufi, kegiatan tersebut sempat membuat kontingen hampir tertinggal kapal. “Jadi setiap malam di pelabuhan Bau-Bau, anak-anak bongkar pion ring. Jadi latihannya di pinggir pelabuhan. Sampai kita hampir ketinggalan kapal,” lanjutnya.
Dari Papua, kontingen menempuh perjalanan laut selama empat hari hingga tiba di Surabaya. Setelah itu, perjalanan diteruskan menggunakan bus menuju lokasi perkemahan di Malang.
Perjalanan tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi delapan peserta dan dua pendamping. Selain menghadapi perjalanan yang melelahkan, para peserta harus segera menyesuaikan diri dengan suasana kegiatan serta mempersiapkan diri untuk berkompetisi di tingkat nasional.
Waktu persiapan yang terbatas membuat latihan dilakukan di sela-sela perjalanan. Kondisi itu juga menuntut peserta dan pendamping memanfaatkan setiap kesempatan, termasuk ketika kapal berhenti di pelabuhan transit.
Bagi para peserta, PPSN VI memiliki skala yang lebih besar dibandingkan perlombaan yang biasanya mereka ikuti. Mereka sebelumnya lebih sering mengikuti lomba pada tingkat provinsi.
“Biasanya anak-anak ikut lomba sekelas provinsi. Di sini skalanya nasional, sehingga mereka lebih terpacu untuk menunjukkan kemampuan,” kata Aufi.
Menempa Mental di Ajang Nasional
Meski persiapan dilakukan dalam keterbatasan, antusiasme kontingen mengikuti PPSN VI tetap tinggi. Peserta tidak hanya mengikuti berbagai perlombaan, tetapi juga berkesempatan bertemu dengan pramuka santri dari berbagai daerah di Indonesia.
Pengalaman perjalanan dari Papua Barat Daya menuju Malang menjadi bagian dari proses bagi peserta untuk beradaptasi, menjaga semangat, dan berani tampil dalam perhelatan pramuka santri berskala nasional.
Aufi berharap persiapan untuk kegiatan serupa pada masa mendatang dapat dilakukan lebih awal. Dengan waktu yang lebih panjang, peserta dan pembina dinilai dapat mempersiapkan diri secara lebih maksimal.
“Harapannya ke depan persiapan bisa dilakukan lebih awal, sehingga anak-anak dan pembina bisa lebih maksimal mempersiapkan diri,” tuturnya.
Ia juga berharap pelaksanaan PPSN VI berjalan dengan baik dan penyelenggaraan berikutnya dapat terus mengalami perbaikan.
“Dan semoga pelaksanaan PPSN VI ini sukses terus dan bisa lebih baik lagi kedepannya,” harapnya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.






