Headline.co.id, Jakarta ~ 30 September 2026 – Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mendorong penguatan kolaborasi untuk mengembangkan wisata olahraga atau sports tourism di Indonesia. Dorongan itu disampaikan saat peluncuran buku “MotoGP Mandalika 2025: Akselerasi Ekonomi, Citra, dan Pariwisata” sekaligus dimulainya penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional di Gedung Bappenas, Rabu (30/9/2026). Menurut Widiyanti, langkah tersebut diperlukan untuk meningkatkan kontribusi pariwisata terhadap perekonomian nasional. Ia menilai pengembangan wisata olahraga harus dilakukan melalui sinergi pemerintah, pemerintah daerah, kementerian/lembaga, swasta, dan pemangku kepentingan pariwisata lainnya.
“Kami meyakini bahwa desain besar ini akan menjadi fondasi penting yang semakin memperkuat posisi sports tourism sebagai salah satu motor pertumbuhan pariwisata Indonesia ke depan. Karenanya kita perlu terus bersinergi agar sports tourism di Indonesia dapat tumbuh menjadi lebih baik,” ujar Menpar Widiyanti.
Potensi wisata olahraga Indonesia
Widiyanti mengatakan olahraga merupakan salah satu tema pariwisata yang sangat potensial untuk terus dikembangkan. Di tingkat global, olahraga telah terbukti menjadi magnet pariwisata karena mampu mendorong wisatawan bepergian untuk menyaksikan atau mengikuti suatu ajang.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Survei Expedia menyebutkan 44 persen wisatawan bersedia bepergian ke luar negeri untuk menikmati hiburan olahraga yang mereka inginkan. Rata-rata pengeluaran wisatawan tersebut mencapai 1.500 dollar AS, angka yang disebut melebihi rata-rata pengeluaran wisatawan ke Indonesia saat ini.
Sementara itu, UN Tourism mencatat wisata olahraga berkontribusi 10 persen terhadap total belanja wisatawan global. Kontribusi tersebut diperkirakan terus bertumbuh sebesar 17,5 persen hingga 2030.
“Peluang ini terasa semakin dekat bagi Indonesia karena gaya hidup masyarakat kita sudah bergerak ke arah yang sama,” ujar Widiyanti.
Indonesia dinilai memiliki modal berupa kekayaan alam dan infrastruktur pendukung untuk mengembangkan wisata berbasis olahraga. Sejumlah event berstandar internasional juga telah diselenggarakan di Indonesia dan memberikan dampak terhadap ekonomi serta citra destinasi.
MotoGP Mandalika menjadi salah satu contohnya. Penyelenggaraan pada 2025 diperkirakan memberikan dampak ekonomi sebesar Rp2,7–4,7 triliun.
Selain itu, HYROX Jakarta yang digelar pada 27-28 Juni 2026 mencatat jumlah peserta 11.500 orang. Jumlah tersebut menjadikan HYROX Jakarta sebagai event Hyrox dengan peserta terbanyak di Asia Pasifik. Sebanyak 15 persen peserta di antaranya berkewarganegaraan asing.
Indonesia juga memiliki event olahraga dengan intellectual property, seperti Jakarta International Marathon. Rangkaian Geopark Run turut disebut sebagai event yang menjadi pengungkit destinasi pariwisata Indonesia.
Empat tantangan pengembangan sports tourism
Meski memiliki potensi besar, Menpar menyebut pengembangan wisata olahraga masih menghadapi sejumlah tantangan. Tantangan pertama adalah pemerataan penyelenggaraan event agar pertumbuhannya tidak hanya terkonsentrasi di sejumlah destinasi unggulan.
“Untuk itu, Kemenpar secara konsisten mendorong pemerintah daerah, kementerian/lembaga, swasta, pemerhati pariwisata lainnya untuk merancang event olahraga yang lahir dari karakter dan keunikan lokal, bukan sekadar replikasi format yang sudah teruji di tempat lain,” ujarnya.
Tantangan kedua berkaitan dengan daya dukung destinasi. Konsentrasi kunjungan pada musim puncak penyelenggaraan event dapat menimbulkan tekanan berlebih terhadap kapasitas destinasi, mulai dari ketersediaan akomodasi hingga infrastruktur pendukung lainnya.
Tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan kunjungan di luar masa penyelenggaraan event. Menurut Widiyanti, destinasi wisata olahraga yang matang seharusnya tetap hidup dan dikunjungi sepanjang tahun, bukan hanya ketika event berlangsung.
“Inilah mengapa kita terus mengembangkan produk wisata berbasis sports tourism tadi sebagai daya tarik di luar pekan event,” kata Menpar.
Tantangan terakhir mencakup standardisasi layanan, profesionalisme penyelenggara, serta pengelolaan risiko. Widiyanti menyebut ketiga aspek tersebut sebagai prasyarat mutlak untuk menyelenggarakan event berkelas dunia.
Masuk dalam desain besar industri olahraga
Menpar berharap empat tantangan tersebut dapat diidentifikasi dan menjadi bagian integral dari penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga yang mulai disusun pada hari itu.
Menurut dia, penyusunan desain besar tersebut diharapkan memperkuat posisi wisata olahraga sebagai salah satu motor pertumbuhan pariwisata Indonesia. Langkah itu juga diharapkan membantu pengembangan event yang sesuai dengan karakter daerah, memiliki daya dukung memadai, berkelanjutan, serta memenuhi standar layanan dan pengelolaan risiko.
“Kami menyampaikan apresiasi yang tinggi atas apa yang telah dicapai dalam event olahraga dan sports tourism Indonesia. Sebuah pencapaian yang sudah sangat baik dan akan menjadi semakin baik lagi setelah tantangan-tantangan yang ada kita selesaikan bersama,” kata Menpar Widiyanti.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















