Headline.co.id, Jakarta ~ Teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi bermula dari pesan WhatsApp yang diterima guru dan staf tata usaha ketika upacara hari pertama MPLS berlangsung pada Senin, 13 Juli 2026. Pesan itu memuat ancaman adanya bom di sejumlah titik sekolah, sehingga kegiatan dihentikan dan siswa dipulangkan. Aparat kemudian mensterilkan lokasi serta mengamankan pria berinisial MY, 34 tahun, yang diduga mengirim ancaman. Tidak ada bom atau benda mencurigakan yang ditemukan, dan sekolah selanjutnya dinyatakan aman.
Rangkaian peristiwa tersebut berlangsung dalam satu hari, mulai dari penerimaan pesan sekitar pukul 07.30 WIB hingga penyisiran, penelusuran pengirim, dan pengumuman kondisi sekolah. Berikut kronologi dan fakta penting yang menjelaskan bagaimana ancaman ditangani serta langkah pemulihan yang disiapkan bagi warga sekolah.
Pesan Ancaman Masuk Saat Siswa Mengikuti Upacara
Guru kelas 1 dan staf tata usaha menerima pesan pribadi melalui WhatsApp ketika siswa dan guru sedang mengikuti upacara. Pengirim menyatakan telah menyiapkan bom di 11 titik sekolah dan meminta penerima tidak melapor kepada polisi. Pesan tersebut juga diikuti panggilan telepon ketika tidak segera mendapat balasan.
Pihak sekolah tidak mengikuti permintaan pengirim dan memilih melaporkan ancaman tersebut. Keputusan itu menjadi langkah awal penanganan karena isi pesan menyangkut keselamatan anak-anak, guru, dan pegawai. Koordinasi kemudian dilakukan dengan kepolisian serta unsur pemerintahan setempat.
MPLS yang baru dimulai pada hari pertama tahun ajaran dihentikan sementara. Siswa dipulangkan agar area sekolah dapat dikosongkan dan diperiksa. Orang tua sempat mengalami kecemasan karena ancaman muncul ketika anak-anak berada di dalam lingkungan sekolah.
Dalam penanganan awal, pihak sekolah mengutamakan pengosongan area daripada menunggu kepastian mengenai kebenaran pesan. Langkah tersebut memungkinkan tim khusus bekerja tanpa aktivitas siswa di sekitar lokasi. Informasi kepada orang tua menjadi bagian penting karena pemulangan dilakukan pada saat kegiatan sekolah baru dimulai.
Penyisiran Berakhir Nihil, Pengirim Ancaman Diamankan
Tim Gegana bersama Densus 88 Antiteror menyisir lingkungan sekolah untuk memastikan ada atau tidaknya bahan peledak. Pemeriksaan dilakukan terhadap titik-titik yang dianggap perlu berdasarkan prosedur pengamanan. Hasil akhir menunjukkan tidak ditemukan bom maupun benda mencurigakan.
MY diamankan di sekitar tempat tinggalnya yang berada tidak jauh dari lokasi sekolah. Kedekatan lokasi memudahkan penelusuran setelah identitas pengirim dikantongi, tetapi polisi tetap memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan latar tindakan dan seluruh rangkaian komunikasi yang terjadi.
Berdasarkan pemeriksaan awal setelah diamankan, MY mengaku melakukan tindakan tersebut karena iseng. Aparat belum menutup penyelidikan karena motif, latar belakang, dan konsistensi keterangannya masih diperiksa. Pengakuan awal itu masih harus dicocokkan dengan bukti elektronik dan informasi lain yang ditemukan.
Telepon genggam MY akan dianalisis secara digital forensik untuk mencocokkan data komunikasi dengan kronologi kejadian. Polisi juga menelusuri informasi bahwa ia pernah mengirim pesan ancaman serupa kepada ketua RT. Temuan itu belum menjadi kesimpulan mengenai motif, tetapi menjadi bagian dari materi pemeriksaan.
Pernyataan aman diberikan setelah pemeriksaan lokasi, bukan semata-mata karena pengirim ancaman telah diamankan. Hal itu penting untuk membedakan penanganan terhadap orang yang diduga mengirim pesan dan verifikasi terhadap kondisi fisik sekolah. Kedua langkah dilakukan sebelum aktivitas pendidikan dipastikan dapat dilanjutkan.
MPLS Dilanjutkan dan Pendampingan Psikologis Disiapkan
Penghentian MPLS pada pagi kejadian merupakan tindakan sementara selama proses verifikasi berlangsung. Setelah hasil penyisiran diumumkan nihil dan aparat menyatakan lokasi aman, keputusan pendidikan dapat diambil kembali oleh pemerintah daerah dan sekolah. Dengan demikian, kelanjutan MPLS didasarkan pada hasil pemeriksaan keamanan, bukan pengabaian terhadap ancaman.
Setelah penyisiran selesai dan lokasi dinyatakan aman, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan MPLS di sekolah tersebut tetap dilanjutkan. Ia mengimbau masyarakat tidak panik, namun tetap waspada saat menerima informasi ancaman. Kegiatan pendidikan dapat kembali berjalan dengan pengamanan dan koordinasi lanjutan.
Polda Metro Jaya melalui Direktorat Reserse PPA dan PPO menyiapkan pendampingan psikologis bagi siswa, orang tua, dan pihak sekolah. Program tersebut diarahkan untuk mengurangi kecemasan, mengembalikan rasa aman, dan memberi penguatan mental kepada anak-anak setelah kegiatan sekolah terganggu oleh ancaman.
Pendampingan juga akan melibatkan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Unit PPA Polres Metro Jakarta Selatan. Evaluasi bersama direncanakan agar sekolah memiliki kesiapan menghadapi kejadian serupa tanpa menimbulkan kepanikan yang lebih luas. Fokusnya mencakup perlindungan anak, komunikasi kepada orang tua, dan koordinasi cepat dengan aparat.
Kondisi SDN Srengseng Sawah 15 Pagi telah dinyatakan aman karena penyisiran tidak menemukan benda berbahaya. Namun, perkara belum selesai pada tahap sterilisasi lokasi. Polisi masih mendalami alasan pengiriman pesan, memeriksa bukti elektronik, dan menentukan tindak lanjut hukum berdasarkan hasil penyidikan.

















