Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa fenomena El Nino yang diperkirakan akan berkembang dari lemah hingga moderat pada semester kedua 2026 dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia hingga 80 persen. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa saat ini kondisi El Nino Southern Oscillation (ENSO) masih netral, namun ada indikasi penguatan menuju El Nino yang perlu diwaspadai karena dapat memperparah musim kemarau.
Menurut BMKG, hasil kajian menunjukkan bahwa musim kemarau di tahun 2026 kemungkinan akan datang lebih awal dan berlangsung lebih lama, dengan kondisi iklim yang lebih kering dibandingkan normal. “Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” jelas Kepala BMKG pada Kamis (9/4/2026).
ENSO adalah fenomena iklim global yang ditandai oleh perubahan suhu permukaan laut dan tekanan udara di Samudra Pasifik tropis, yang terdiri dari tiga fase utama: El Nino (pemanasan), La Nina (pendinginan), dan netral. Perubahan ini memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia, di mana El Nino umumnya menyebabkan berkurangnya curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan.
Sejalan dengan kondisi tersebut, BMKG mencatat bahwa jumlah titik panas atau hotspot di Indonesia hingga awal April 2026 telah mencapai 1.601 titik, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Kepala BMKG merinci bahwa potensi karhutla diperkirakan mulai meningkat di wilayah Riau pada Juni, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan, serta berlanjut ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada periode Juli hingga Agustus.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG terus memperkuat pendekatan preventif melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan metode pembasahan lahan atau rewetting, khususnya di wilayah rawan gambut. “Kami terus berupaya memperkuat langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi risiko kebakaran hutan,” ujar Kepala BMKG. Terakhir, ia mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, guna mengantisipasi peningkatan risiko karhutla seiring perkembangan kondisi iklim tersebut.






















