Headline.co.id, Kota Gorontalo ~ Pemerintah Provinsi Gorontalo menargetkan peningkatan penemuan kasus Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2026 dengan menggandeng sektor privat. Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwo, menyatakan harapannya agar kontribusi sektor privat dapat dipandu untuk bekerja lebih maksimal. Hal ini disampaikan dalam Pertemuan Koordinasi Penerapan Publik Private Mix (PPM) dan Ekspansi Pemberian Terapi Pencegahan TBC tingkat Provinsi Gorontalo, Jumat (6/3/2026).
Anang menjelaskan bahwa pertemuan tersebut bertujuan untuk mengevaluasi capaian program pengendalian TBC di Provinsi Gorontalo serta memberikan penyegaran bagi tenaga kesehatan terkait skrining dan diagnosis penyakit tersebut. “Tujuan dari kegiatan ini sendiri adalah melakukan evaluasi, dan juga ada penyegaran dari dokter Ferdi terutama terkait bagaimana skrining dan diagnosis,” ujarnya.
Pada tahun sebelumnya, capaian penemuan kasus TBC di Gorontalo baru mencapai 78 persen dari target nasional sebesar 90 persen. Anang menyebutkan bahwa salah satu kendala yang sering ditemui adalah hasil pemeriksaan yang menunjukkan negatif meskipun terdapat dugaan kasus. “Memang di lapangan itu banyak yang kita duga ketika diperiksa hasilnya negatif. Misalnya tadi ada klinik yang melaporkan 28, tapi yang positif hanya empat,” ungkapnya.
Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh teknik pengambilan sampel dahak yang kurang tepat. Anang menekankan pentingnya kualitas sampel yang diambil harus benar-benar berasal dari saluran pernapasan, bukan sekadar air liur. “Begitu juga dahak yang diambil, harus dipastikan apakah betul-betul dahak, bukan air liur biasa,” katanya.
Pemeriksaan sampel dilakukan menggunakan metode Tes Cepat Molekuler (TCM) yang tersedia di beberapa fasilitas kesehatan tertentu. Anang menambahkan bahwa pengambilan sampel dahak dapat dilakukan di seluruh puskesmas, sedangkan pemeriksaan laboratorium dilakukan di puskesmas yang memiliki alat TCM. “Di semua puskesmas bisa dilakukan pengambilan dahak dan untuk pemeriksaannya ada puskesmas tertentu yang punya alat TCM,” ujarnya.
Ia berharap berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dapat mendukung target eliminasi TBC pada tahun 2030. “Diharapkan di tahun 2030 status kita jadi eliminasi. Maksud dari eliminasi ini bukan habis, tapi sudah berkurang jauh,” katanya. Pengendalian TBC juga menjadi salah satu program prioritas Pemerintah Provinsi Gorontalo di bawah kepemimpinan Gusnar Ismail dan Idah Syahidah Rusli Habibie.
Pada kesempatan itu, Kepala Dinas juga menyerahkan penghargaan kepada klinik dan Tempat Praktik Mandiri Dokter (TPMD) yang berkontribusi dalam penemuan dan pengobatan TBC. Penghargaan diberikan kepada Lapas Kelas II-A Kota Gorontalo, Klinik Pratama Ibnu Sina, dan Klinik Pratama Amalia untuk kategori Klinik Melaporkan Kasus dan Mengobati. Sementara untuk kategori TPMD, penghargaan diberikan kepada Elias Tuwaidan, Roni H. Imran, dan Hays N. Kuengo.





















