Headline.co.id, Pekanbaru ~ Kabupaten Indragiri Hulu di Provinsi Riau mencatat jumlah kasus Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) terbanyak hingga 28 Februari 2026. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, mengungkapkan bahwa berdasarkan data Dinas PKH Riau, total kasus PHMS dari Januari hingga 28 Februari 2026 mencapai 775 kasus dari 83 kejadian di berbagai kabupaten dan kota.
Indragiri Hulu menjadi wilayah dengan kasus tertinggi, mencatat 332 kasus dari 25 kejadian, didominasi oleh Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta penyakit Jembrana. Kabupaten Rokan Hulu berada di posisi kedua dengan 251 kasus dari 30 kejadian, diikuti oleh Kabupaten Siak dengan 132 kasus dari 17 kejadian. Ketiga daerah ini menjadi prioritas pengendalian karena beban kasus yang tinggi.
Kota Dumai melaporkan 38 kasus dari empat kejadian, sementara Kabupaten Indragiri Hilir mencatat 12 kasus dari dua kejadian. Daerah lain seperti Pelalawan, Kampar, Bengkalis, Rokan Hilir, dan Kota Pekanbaru melaporkan kasus dalam jumlah terbatas. Kabupaten Kuantan Singingi dan Kepulauan Meranti tidak melaporkan kasus PHMS hingga akhir Februari 2026.
Berdasarkan jenis penyakit, PMK mendominasi dengan 522 kasus dari 62 kejadian. Penyakit Jembrana tercatat sebanyak 239 kasus dari 12 kejadian. Penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) dan rabies masing-masing mencatat tujuh kasus dari dua dan tujuh kejadian. Penyakit lain seperti antraks, brucellosis, African Swine Fever (ASF), Classical Swine Fever (CSF), Avian Influenza (AI), dan Septicaemia Epizootica (SE) tidak dilaporkan pada periode tersebut.
Mimi Yuliani Nazir menyatakan, “Tingginya kasus di Indragiri Hulu, Rokan Hulu, dan Siak mengindikasikan adanya risiko penularan berkelanjutan, terutama untuk PMK yang memiliki sebaran luas dan tingkat kejadian tertinggi.” Ia menambahkan bahwa mobilitas ternak antarwilayah, pola pemeliharaan tradisional, dan penerapan biosekuriti yang belum optimal menjadi penyebab tingginya angka kasus.
Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas PKH terus memperkuat upaya pengendalian dengan meningkatkan surveilans aktif, melaksanakan vaksinasi PMK dan Jembrana, membatasi lalu lintas ternak, serta melakukan pengawasan ketat di wilayah dengan kasus tertinggi. Langkah ini diharapkan dapat menekan penyebaran penyakit dan mencegah perluasan wabah di bulan-bulan mendatang.


















