Headline.co.id, Jakarta ~ Ramadan menjadi momen penting bagi keluarga di Indonesia untuk memperkuat ikatan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mengajak keluarga memanfaatkan bulan suci ini sebagai kesempatan untuk tumbuh bersama anak-anak. Ajakan ini disampaikan oleh Rr. Endah Sri Rejeki, Asisten Deputi KPPPA, dalam Podcast SAPA pada Sabtu (28/2/2026). Ia mengingatkan kembali tentang Gerakan Ramadan Ramah Anak yang telah dimulai sejak 2025.
Menurut Endah, Ramadan bukan hanya waktu untuk meningkatkan spiritualitas, tetapi juga kesempatan untuk membangun karakter anak. “Ramadan adalah bulan yang spesial. Di bulan ini, kita punya banyak momen kebersamaan yang sebenarnya bisa memperkuat ikatan orang tua dan anak,” ujarnya.
Tahun lalu, KPPPA bersama sejumlah kementerian dan lembaga meluncurkan gerakan yang mengajak keluarga untuk meluangkan minimal satu jam tanpa gawai. Pesan dari gerakan ini sederhana namun berdampak besar: menghabiskan waktu bersama keluarga tanpa gangguan teknologi. Orang tua diharapkan memberi contoh dengan meletakkan gawai dan menggantinya dengan aktivitas seperti percakapan hangat, memasak bersama, salat berjemaah, atau sekadar berbincang tentang kegiatan sehari-hari.
Gerakan ini tidak hanya ditujukan kepada anak-anak, tetapi juga kepada orang tua dan masyarakat luas. Ramadan dipandang sebagai waktu yang tepat untuk memperbaiki kualitas pengasuhan. Ketika orang tua lebih sabar, lebih mendengarkan, dan lebih hadir, anak-anak akan tumbuh dengan rasa aman dan percaya diri.
Memasuki tahun 2026, KPPPA melanjutkan komitmen ini dengan mengadakan kelas daring keluarga yang diberi nama “Kolak Ketan”. Nama ini dipilih untuk menciptakan suasana Ramadan yang hangat dan menyenangkan. Melalui kelas-kelas ini, keluarga diajak untuk belajar bersama tentang kesehatan, pendidikan, dan pengasuhan positif. Kelas ini bukan hanya sekadar transfer ilmu, tetapi juga ruang dialog yang mempertemukan orang tua dan anak dalam semangat yang sama: tumbuh bersama.
Di tengah tantangan era digital, Ramadan menjadi waktu yang tepat bagi keluarga untuk saling menguatkan. Ketika azan magrib berkumandang dan meja makan sederhana terhidang, di situlah percakapan dimulai. Dari cerita kecil, tumbuh rasa percaya. Dari kebersamaan, lahir karakter.
Gerakan Ramadan Ramah Anak mengingatkan bahwa membangun generasi kuat tidak selalu memerlukan langkah besar. Kadang cukup dengan satu jam yang tulus, satu percakapan tanpa distraksi, dan satu pelukan hangat di rumah. “Membangun generasi yang kuat tidak selalu memerlukan langkah besar. Kadang cukup dengan satu jam yang tulus, satu percakapan tanpa distraksi, dan satu pelukan hangat di rumah,” pungkas Endah.



















