Headline.co.id, Sleman ~ Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Alma Ata menggelar edukasi literasi digital sebagai upaya membentengi siswa dari risiko siber di MAN 1 Sleman pada Jumat, 13 Februari 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini dilaksanakan di lingkungan madrasah yang berlokasi di Jalan Pramuka, Sidoarum, Godean, Kabupaten Sleman, sebagai bagian dari program kerja KKNT Kelompok 6 yang tengah melakukan pengabdian masyarakat di Padukuhan Brongkol. Edukasi difokuskan pada pemahaman penggunaan teknologi secara bijak, aman, dan bertanggung jawab, sekaligus meningkatkan kesadaran siswa terhadap ancaman penyalahgunaan data dan perilaku digital yang tidak tepat. Materi disampaikan secara interaktif melalui diskusi dan tanya jawab agar mudah dipahami serta relevan dengan kehidupan remaja.
Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi mencakup keterampilan memahami, mengevaluasi, serta menciptakan informasi secara aman. Siswa diberikan pemahaman tentang etika berinternet, risiko penggunaan teknologi secara sembarangan, serta pentingnya menjaga keamanan data pribadi di era digital.
Anggota tim KKNT, Elfina Indah Cahyaningsih, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi, menegaskan bahwa pendekatan materi disesuaikan dengan kondisi remaja saat ini yang sangat dekat dengan media digital.
“Kami ingin teman-teman siswa bisa lebih memahami bagaimana menggunakan teknologi secara bijak terlebih dahulu, karena itu sangat dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Setelah itu, kami juga mengajak mereka untuk lebih peduli terhadap kesehatan dan mulai menerapkan pola hidup yang lebih sehat sejak sekarang,” ujar Elfina.
Selain literasi digital, mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai Penyakit Tidak Menular (PTM) sebagai bentuk penguatan kesadaran kesehatan. PTM dijelaskan sebagai penyakit kronis yang tidak menular antarindividu dan berkembang dalam jangka panjang, umumnya dipengaruhi oleh gaya hidup tidak sehat, faktor lingkungan, maupun genetik. Beberapa contoh yang dipaparkan antara lain penyakit jantung, stroke, diabetes, kanker, serta penyakit paru obstruktif kronis.
Suasana kegiatan berlangsung aktif. Para siswa terlibat dalam diskusi mengenai kebiasaan penggunaan media digital sehari-hari dan pola hidup yang berpotensi memicu PTM. Respons positif datang dari peserta yang merasa mendapatkan wawasan baru.
“Sangat mengedukasi dan seru, soalnya tadi kakak-kakaknya juga pas menjelaskan sangat detail dan terperinci. Hebat kampusnya, mantap. Kalau ada jurusan yang saya inginkan saya mau berkuliah di sana,” ujar Jagad Surya Yudha, siswa kelas XE5.
Hal serupa disampaikan Arwa Imtiyaazi’ Aqil, siswa kelas XE4. “Seru banget karena aku bisa mengetahui beberapa hal baru, kayak apa sih itu PTM, terus apa sih bahayanya memakai digital kalau sembarangan, kayak nggak hati-hati gitu. Terus habis itu jadi tahu kampus Alma Ata itu apa saja jurusannya. Untuk keinginan masuk ke Alma Ata fifty-fifty sih, lihat nanti,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari Wakil Kepala Kurikulum, Musahir. Ia menilai edukasi literasi digital dan kesehatan menjadi kebutuhan penting bagi siswa di tengah perkembangan teknologi yang pesat.
“Saya selaku Wakil Kurikulum sangat berterima kasih dan mengapresiasi terhadap apa yang telah dilaksanakan para mahasiswa ini. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa bermanfaat bagi anak-anak, terutama terkait literasi digital dan PTM yang memang menjadi isu penting bagi mereka,” ujarnya.
Sebagai madrasah aliyah negeri terakreditasi A yang berdiri sejak 12 Juli 1962, MAN 1 Sleman dikenal mengembangkan pendidikan agama Islam sekaligus keterampilan vokasi seperti Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), tata boga atau busana, serta multimedia. Melalui kegiatan kolaboratif ini, sekolah berharap siswa tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran digital dan kesehatan yang kuat.
Melalui program edukasi tersebut, mahasiswa KKNT Universitas Alma Ata menegaskan komitmen pengabdian masyarakat yang berorientasi pada kebutuhan nyata generasi muda. Literasi digital diposisikan sebagai tameng awal dalam menghadapi risiko siber, sementara pemahaman tentang PTM menjadi fondasi menjaga kualitas hidup jangka panjang.






















