Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, mengingatkan bahaya ketergantungan anak pada gawai yang dapat mencapai 7–8 jam per hari. Ia mengajak 46 juta keluarga di Indonesia yang memiliki remaja untuk memperkuat peran pengasuhan agar teknologi tidak menggantikan fungsi orang tua dalam membentuk karakter generasi masa depan. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Prasara dan Vistara Pembangunan Keluarga bersama Tim Penggerak PKK Provinsi dan Kabupaten/Kota di Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Wihaji menekankan pentingnya peran keluarga dalam memastikan penggunaan gawai dan internet secara positif dan produktif, serta tetap dalam pengawasan orang tua. Tanpa pendampingan yang memadai, ruang digital berpotensi lebih dominan membentuk pola pikir dan perilaku anak dibandingkan lingkungan keluarga. “Keluarga adalah unit terkecil dalam negara. Maka untuk memperbaiki negara, perbaiki keluarga. Kita tidak anti teknologi, tetapi harus hati-hati,” ujarnya.
Menurut data Pendataan Keluarga 2025 (PK25) Kemendukbangga/BKKBN, dari 74.092.313 keluarga yang terdata secara nasional, sebanyak 46.739.887 adalah keluarga dengan remaja usia 10–24 tahun yang belum menikah. Angka ini menunjukkan bahwa klaster remaja menjadi kelompok strategis dalam menentukan arah pembangunan kependudukan nasional ke depan.
Wihaji juga menyoroti ketimpangan interaksi digital dan komunikasi antarpribadi di dalam rumah tangga. Rata-rata remaja menghabiskan hampir sepertiga waktunya di depan layar, sementara komunikasi efektif dengan orang tua kerap hanya berlangsung 10 menit hingga satu jam per hari. “Jika tidak diarahkan, nilai-nilai pembentuk karakter anak justru lebih banyak datang dari layar dibandingkan keluarga,” tegasnya.
Sebagai respons atas tantangan tersebut, Kemendukbangga menyiapkan strategi penguatan delapan fungsi keluarga, meliputi fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan. Penguatan ini dilakukan melalui sinergi bersama Tim Penggerak PKK yang berperan sebagai ujung tombak pelaksanaan program prioritas pembangunan keluarga di masyarakat.
Selain itu, Kemendukbangga menjalankan Program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) serta menginisiasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) bersama Tim Penggerak PKK. Program ini mendorong keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan dan pengawasan aktivitas digital anak, mengingat kehadiran emosional orang tua tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Mengakhiri pernyataannya, Wihaji menegaskan bahwa anak dan remaja saat ini adalah calon pemimpin bangsa dalam dua dekade mendatang. Karena itu, penguatan keluarga merupakan investasi jangka panjang untuk memastikan generasi muda siap menyongsong masa depan. “Jika keluarga kuat, maka bangsa akan kuat. Masa depan Indonesia ditentukan oleh bagaimana kita menjaga generasi hari ini,” tutupnya.





















