Headline.co.id, Jakarta ~ Pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga pada pendidikan anak-anak. Melalui Program Mahasiswa Berdampak, mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) menghadirkan Pojok Literasi dan kegiatan trauma healing bagi anak-anak terdampak banjir di Kampung Landuh, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Inisiatif ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan proses belajar di masa pemulihan.
Program ini diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sebagai bagian dari strategi pemulihan berbasis pendidikan. Pojok Literasi menawarkan ruang belajar alternatif yang aman, sederhana, dan adaptif terhadap kondisi lapangan. Ketua BEM Unsri, Muhammad Gabriel Valensa, menjelaskan bahwa Pojok Literasi adalah bentuk bakti sosial melalui pembangunan sekolah darurat bagi anak-anak di wilayah terdampak bencana.
Kegiatan ini dilaksanakan empat kali dalam sepekan dengan pembelajaran yang disesuaikan tingkat kelas, serta aktivitas pendukung seperti permainan edukatif dan kegiatan interaktif untuk membangun kembali kepercayaan diri anak. “Sebelum program berjalan, banyak anak kehilangan semangat belajar dan belum kembali bersekolah seperti biasa. Setelah adanya Pojok Literasi, perubahan terlihat signifikan, anak-anak kembali aktif dan lebih berekspresi,” ujar Gabriel dalam keterangan tertulis yang diterima , Kamis (26/2/2026).
Pojok Literasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana belajar, tetapi juga menjadi ruang pemulihan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana. Pendekatan dilakukan secara informal dan humanis agar anak merasa nyaman berinteraksi kembali. Veronika Zahra Pirera, penanggung jawab Program Pojok Literasi, mengatakan kegiatan ini telah berjalan selama sekitar 26 hari dan diterima baik oleh masyarakat karena pendekatan yang natural dan partisipatif. “Kami membangun kedekatan dengan anak-anak melalui aktivitas sehari-hari, bermain bersama, hingga kegiatan keagamaan selama Ramadan seperti salat tarawih bersama. Anak-anak lebih terbuka ketika merasa didengar,” jelas Veronika.
Pojok Literasi dirancang dengan konsep sederhana dan mudah direplikasi. Fasilitas berupa rak buku bertingkat setinggi 130–150 sentimeter dengan lebar sekitar 90–100 sentimeter ditempatkan di sudut ruang belajar tanpa membutuhkan infrastruktur besar. Mahasiswa juga menyediakan alas duduk dan meja kecil untuk kegiatan membaca bersama. Area belajar dihias secara kreatif dan penuh warna guna menciptakan suasana yang nyaman sekaligus menumbuhkan minat baca siswa.
Koleksi bacaan yang tersedia meliputi cerita anak, buku pengetahuan umum, hingga majalah edukatif. Kehadiran bahan bacaan ini menjadi solusi atas keterbatasan fasilitas perpustakaan sekolah yang terdampak banjir. Program ini juga mengintegrasikan teknologi digital sederhana melalui barcode yang dapat dipindai menggunakan gawai untuk mengakses buku elektronik secara luring.
Pendekatan ini menjadikan Pojok Literasi sebagai bagian dari upaya learning recovery pascabencana, memastikan anak-anak tetap memiliki akses pendidikan meski dalam kondisi terbatas. Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, I Ketut Adnyana, sebelumnya menegaskan bahwa Program Mahasiswa Berdampak 2026 merupakan wujud transformasi pendidikan tinggi agar lebih kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. “Kehadiran mahasiswa diharapkan memberikan semangat dan optimisme bagi masyarakat untuk bangkit dari cobaan. Ini adalah bentuk nyata pendidikan tinggi yang berdampak,” ujar Ketut.
Melalui Pojok Literasi, mahasiswa tidak hanya menghadirkan ruang belajar sementara, tetapi juga menumbuhkan kembali harapan pendidikan bagi anak-anak di Aceh Tamiang. Langkah sederhana ini menjadi bukti bahwa pemulihan pascabencana dapat dimulai dari menjaga semangat belajar generasi muda agar tetap tumbuh, belajar, dan bermimpi di tengah keterbatasan.





















