Headline.co.id, Jakarta ~ Kolaborasi perguruan tinggi dan pemerintah terus diperkuat dalam upaya pemulihan pascabencana di wilayah pedalaman Sumatra. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Program Mahasiswa Berdampak menghadirkan solusi nyata berupa penyediaan air siap minum, dukungan pendidikan, dan pemulihan psikologis bagi warga Desa Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
Mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) terlibat langsung dalam merancang dan membangun sistem distribusi air bersih. Mereka memasang pipanisasi sepanjang lebih dari 2,5 kilometer dari sumber mata air yang terletak di ketinggian sekitar 550 meter di atas permukaan laut menuju permukiman warga. Sistem ini dilengkapi dengan instalasi filtrasi berlapis untuk memastikan air layak konsumsi.
Muhammad Ulil Albab, penanggung jawab Program Filtrasi, menjelaskan bahwa Desa Jamat dipilih karena keterbatasan akses dan minimnya ketersediaan air bersih pascabencana. “Kami membangun sistem filtrasi menggunakan pipa HDPE yang dialirkan ke filter tabung FRP 1054 untuk mengubah air kotor menjadi air bersih, kemudian dilanjutkan ke filter lanjutan hingga layak diminum. Kami juga mencari sumber mata air baru di hulu sejauh sekitar 1,4 kilometer dengan elevasi hampir 200 meter lebih tinggi untuk memastikan ketersediaan air yang cukup dan berkualitas,” ujar Muhammad Ulil dalam keterangan tertulis yang diterima , Selasa (17/2/2026).
Meskipun menghadapi kendala teknis, logistik, dan kondisi geografis yang menantang, mahasiswa bersama mitra lokal berhasil menyelesaikan instalasi melalui penyesuaian desain di lapangan dan kolaborasi dengan masyarakat. Selain penyediaan air minum, mahasiswa juga membantu membersihkan fasilitas umum, membangun tungku bakar sederhana untuk penanganan sampah darurat, serta memberikan dukungan pendidikan dan trauma healing bagi anak-anak.
Mahasiswa ITB menetap dan berkontribusi langsung di Desa Jamat sejak awal Februari hingga awal Maret 2026. Dampaknya dirasakan langsung oleh warga. Kepala Desa Jamat, Yusradi, menyampaikan apresiasi atas dukungan tersebut. “Alhamdulillah, sekarang kebutuhan air bersih mulai terpenuhi, anak-anak kembali semangat belajar, dan warga mendapat dukungan trauma. Kami sangat berterima kasih kepada Kemdiktisaintek dan para mahasiswa yang telah memberi harapan baru bagi desa kami,” katanya.
ITB sebelumnya telah merespons cepat bencana pada akhir November lalu dengan mengirimkan bantuan awal berupa filter air. Tahap selanjutnya diwujudkan melalui pembangunan instalasi pengolahan air permanen di lokasi terdampak. Secara nasional, ITB bersama berbagai mitra telah membangun sekitar 40 titik instalasi pengolahan air dengan kapasitas rata-rata 1.000 liter per jam. Selain itu, satu mesin pengolahan air portabel berkapasitas 7.000 liter per jam juga telah dipasang di Aceh Tamiang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya mendorong peran aktif perguruan tinggi dalam mendukung pemulihan masyarakat dan pembangunan nasional. Sinergi keilmuan, teknologi, dan pengabdian sosial menjadi fondasi agar respons pendidikan tinggi tidak hanya adaptif, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat, khususnya dalam situasi darurat dan pascabencana.





















