Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengajak peserta magang nasional dan Digital Leaders Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) untuk bersiap menghadapi percepatan transformasi digital. Ajakan ini disampaikan dalam acara Townhall Meeting Menkomdigi bersama peserta magang nasional dan digital leaders Komdigi di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Meutya Hafid memperkenalkan jajaran staf ahli dan staf khusus yang mendukung pelaksanaan tugas kementerian. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan kementerian tidak hanya didukung oleh sekretaris jenderal dan para direktur jenderal, tetapi juga diperkuat oleh staf ahli lintas bidang. Staf ahli yang diperkenalkan lain Staf Ahli Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya, Raden Wijaya Kusumawardhana; Staf Ahli Bidang Teknologi, Hadiana; Staf Ahli Bidang Komunikasi Molly Prabawati; serta Staf Ahli Bidang Hukum, Cahyaning Nuratih Widowati, yang sebelumnya bertugas sebagai jaksa di Kejaksaan Agung. Selain itu, hadir pula Staf Khusus Menteri, Arnanto Prabowo, serta Raline Shah yang turut membantu penguatan komunikasi dan hubungan internasional.
Menteri Meutya menekankan bahwa program magang nasional merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan kesempatan lebih luas kepada lulusan muda berkontribusi di instansi pemerintah. “Program sebesar ini belum pernah ada sebelumnya. Karena itu, kita harus berterima kasih kepada Bapak Presiden yang memberi ruang bagi talenta-talenta muda untuk belajar dan berkontribusi langsung di pemerintahan,” ujarnya.
Ia meminta seluruh pimpinan satuan kerja memperlakukan peserta magang sebagai bagian dari keluarga besar Kemkomdigi dan memberikan penugasan substantif sesuai kompetensi masing-masing. “Kita tidak ingin hanya seremonial. Jangan hanya diberi tugas administratif. Libatkan mereka dalam kajian, analisis, dan perumusan awal kebijakan sesuai bidangnya,” tegas Meutya Hafid.
Dalam arahannya, Menkomdigi juga memaparkan pesatnya perkembangan teknologi digital dalam 15–20 tahun terakhir, mulai dari era pager, SMS, hingga komunikasi berbasis internet dan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, perubahan tersebut berlangsung eksponensial dan tidak dapat dibendung. Ia menekankan pentingnya pola pikir adaptif dan tidak birokratis di era digital. “Tidak bisa lagi bekerja dengan cara lama, terlalu kaku, tidak kolaboratif, atau berpikir linear. Kita harus melompat dalam ide, terbuka terhadap perubahan, dan mampu bekerja lintas sektor serta lintas negara,” katanya.
Terkait pemanfaatan kecerdasan buatan, Meutya menyebut tingkat adopsi AI di Indonesia termasuk tinggi, namun pemanfaatannya perlu diarahkan pada peningkatan produktivitas dan nilai ekonomi. “AI jangan hanya digunakan untuk hal-hal permukaan. Harus dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing,” ujarnya.
Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, Meutya juga mengingatkan agar semangat ibadah tetap diiringi dengan profesionalisme kerja, termasuk dalam pengaturan mekanisme work from home atau work from anywhere sesuai kebijakan pemerintah. Ia menekankan pentingnya menjaga konektivitas dan pengawasan ruang digital selama periode libur keagamaan yang biasanya disertai peningkatan trafik komunikasi dan potensi gangguan siber. “Semangat beribadah harus berjalan seiring dengan kinerja yang tetap optimal. Kerja yang dilakukan dengan niat baik juga bagian dari ibadah,” kata Menkomdigi.
Menutup arahannya, Meutya Hafid mengajak seluruh peserta magang memanfaatkan masa penugasan enam bulan secara maksimal. “Jangan ada penyesalan. Gunakan waktu untuk belajar, berlari, dan memberi kontribusi terbaik. Karena kesempatan seperti ini adalah kebanggaan sekaligus amanah,” pungkasnya. Townhall meeting tersebut menjadi momentum penguatan kolaborasi pimpinan dan talenta muda di lingkungan Kemkomdigi dalam mendukung percepatan transformasi digital nasional.






















