Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah mendistribusikan 1.476 buku bacaan kepada sekolah-sekolah yang terdampak banjir di Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Langkah ini merupakan bagian dari upaya mempercepat pemulihan layanan pendidikan dan memperkuat literasi bagi siswa pascabencana.
Bantuan tersebut disalurkan melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat. Sekolah yang menerima bantuan ini meliputi SDN 09 Selayo, SDN 05 Selayo, dan SMPN 1 Kubung. Selain buku bacaan, sekolah-sekolah tersebut juga mendapatkan dukungan dana pendidikan untuk memperbaiki sarana pembelajaran yang rusak akibat banjir.
Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan proses belajar mengajar tetap berlangsung di daerah terdampak bencana, serta menjaga semangat belajar anak-anak agar tidak terhenti meskipun dalam kondisi darurat. Kepala Sekolah SDN 05 Selayo, Erlinawati, menyatakan bahwa bantuan buku sangat dibutuhkan karena sebagian besar bahan bacaan siswa rusak dan hanyut akibat banjir. “Kami sangat bersyukur atas bantuan buku ini. Buku-buku anak kami rusak dan hanyut akibat banjir, sehingga kehadiran buku bacaan ini sangat kami butuhkan untuk mendukung kegiatan belajar di sekolah,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima , Sabtu (7/2/2026).
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Solok, Nila Kesumawati, menekankan pentingnya ketersediaan buku sebagai fondasi utama pembelajaran. Menurutnya, meskipun keterbatasan sarana seperti meja dan kursi dapat diatasi secara bertahap, tanpa buku, proses belajar akan terhambat. “Jika sarana seperti meja dan kursi belum tersedia, anak-anak masih bisa belajar secara sederhana. Namun, tanpa buku, pembelajaran tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya,” tuturnya.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat, Rahmat, menjelaskan bahwa penyaluran bantuan ini tidak hanya berfokus pada pemulihan akademik, tetapi juga mendukung pemulihan psikososial peserta didik. Buku bacaan dinilai mampu membantu anak-anak kembali merasa aman, nyaman, dan bersemangat untuk belajar. Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Dora Amalia, menegaskan bahwa literasi menjadi pintu masuk untuk membangkitkan kembali motivasi belajar siswa. “Melalui penyaluran buku bacaan, kami berharap anak-anak kembali termotivasi untuk belajar dan merasakan bahwa negara hadir mendampingi mereka dalam situasi sulit pascabencana,” katanya.
Secara keseluruhan, program pemulihan pendidikan di Sumatra Barat telah menjangkau 242 sekolah terdampak bencana. Hingga awal Februari 2026, bantuan yang disalurkan mencapai 3.756 eksemplar buku bacaan serta voucer pendidikan dengan total nilai Rp340 juta. Nilai bantuan per sekolah berkisar Rp5 juta hingga Rp25 juta, disesuaikan dengan tingkat kerusakan dan dampak yang dialami.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa pendekatan literasi dipilih sebagai strategi utama dalam pemulihan pendidikan karena mampu menyentuh aspek akademik sekaligus psikologis peserta didik. “Pada tahap ini, Kemendikdasmen menyalurkan buku bacaan dalam jumlah yang lebih besar, disertai voucer pendidikan yang dapat dimanfaatkan sekolah untuk mendukung perbaikan sarana fisik pembelajaran. Kami ingin memastikan pemulihan pendidikan berjalan secara menyeluruh dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, aktivitas membaca dan mendengarkan cerita dapat membantu anak-anak menenangkan emosi, mengalihkan ingatan dari pengalaman traumatis, serta kembali pada rutinitas belajar yang memberi rasa stabil dan harapan. Dalam konteks ini, buku tidak hanya menjadi bahan ajar, tetapi juga media pendampingan psikososial. “Anak-anak yang terdampak banjir memerlukan pendampingan agar tetap memiliki motivasi belajar dan rasa aman secara psikologis. Melalui buku dan aktivitas literasi, kami berupaya membantu mereka kembali beradaptasi dan pulih,” pungkas Hafidz.
Melalui penyaluran bantuan ini, Kemendikdasmen menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlangsungan layanan pendidikan di daerah terdampak bencana, sekaligus memastikan hak belajar setiap anak tetap terpenuhi dalam kondisi apa pun.























