Headline.co.id, Jakarta ~ Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengajak masyarakat untuk menyikapi isu Superflu dengan bijak dan berdasarkan data yang akurat. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, drg. Ani Ruspitawati, menegaskan pentingnya kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan dalam kegiatan edukasi kesehatan yang melibatkan pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat pada Jumat (9/1/2026).
Ani Ruspitawati menyatakan bahwa kewaspadaan harus diimbangi dengan pengetahuan yang benar agar masyarakat dapat melindungi diri dan lingkungan sekitar. Ia mengingatkan bahwa meskipun influenza adalah penyakit umum, komplikasi dapat membuatnya serius, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis. Oleh karena itu, kemampuan mengenali gejala awal dan mengetahui kapan harus mengakses layanan kesehatan sangat penting untuk mencegah dampak yang lebih berat.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan bahwa hingga akhir Desember 2025, situasi influenza A(H3N2) subclade K di Indonesia masih terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibandingkan clade influenza lainnya. Subclade K ini pertama kali diidentifikasi oleh CDC Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan telah dilaporkan di lebih dari 80 negara. WHO menilai varian ini tidak menunjukkan gejala yang lebih berat, dengan manifestasi klinis yang serupa dengan flu musiman.
Di Indonesia, surveilans nasional menunjukkan bahwa meskipun influenza A(H3) menjadi varian dominan, tren kasus menurun dalam dua bulan terakhir. Pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) per 25 Desember 2025 mencatat 62 kasus subclade K di delapan provinsi, dengan mayoritas pasien mengalami gejala ringan hingga sedang. Temuan ini mencerminkan berjalannya sistem surveilans nasional secara optimal dan menjadi dasar pengambilan kebijakan kesehatan masyarakat yang terukur.
Pemprov DKI Jakarta dan Kemenkes menekankan bahwa pencegahan terbaik tetap berakar pada Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Ani Ruspitawati menekankan pentingnya langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker saat sakit, dan menerapkan etika batuk. “Ini bukan hal baru, tetapi dampaknya sangat besar,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peran strategis guru, tenaga kesehatan, dan kader masyarakat sebagai penyambung informasi yang benar dan terpercaya. Melalui edukasi berkelanjutan dan penyampaian data yang transparan, pemerintah berharap masyarakat semakin cerdas menyikapi isu kesehatan dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. “Kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah hadir untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang benar, agar kita semua tetap produktif dan terlindungi,” pungkas Kepala Dinkes DKI Jakarta.





















