Headline.co.id (Sleman) — Di tengah gegap gempita budaya yang terus dirawat, Komunitas Kekandhangan Banyuraden mengambil langkah inovatif dan penuh empati. Pada Minggu (15/6/2025), komunitas yang berbasis di Kapanewon Gamping, Sleman ini menggelar Horse Character Recognition Training—pelatihan pengenalan karakter kuda—yang menyatukan pendekatan ilmiah dan kearifan LOKAL.
Pelatihan ini bukan sekadar ajang berbagi pengetahuan. Lebih dari itu, menjadi medan pembekalan penting bagi para relawan kekandhangan yang kerap turun langsung dalam kirab budaya. Tujuannya jelas: memahami perilaku dan bahasa tubuh kuda demi menghindari risiko di tengah keramaian.
“Relawan adalah garda depan. Mereka bertanggung jawab menjaga keselamatan kuda, penunggang, dan masyarakat,” ujar Adnan Iman Nurtjahjo, Sekretaris Komunitas sekaligus fasilitator pelatihan. Ia menekankan bahwa membaca sinyal stres pada kuda adalah keahlian vital—bukan pelengkap semata.
Dengan pendekatan etologi, ilmu yang mengkaji perilaku hewan, para peserta diajak mengamati bagaimana telinga yang bergerak gelisah, mata membelalak, atau napas tersengal bisa menjadi pertanda bahaya. “Tak semua kuda bereaksi sama terhadap suara sorak atau bunyi gamelan. Ada yang tenang, ada pula yang mudah terpancing,” kata Adnan.
Salah satu sesi yang mencuri perhatian adalah pemaparan dari Joko Riyanto, pemilik seekor kuda betina bernama Marsela. Ia mengungkap sisi lain dari dunia kekandhangan: ilmu titen, warisan nenek moyang dalam membaca karakter kuda lewat pola pusaran rambut atau unyeng-unyeng.
Menurut Joko, pusaran satu di atas mata—dikenal sebagai Gedong Minep—sering diartikan membawa pertanda baik. Sebaliknya, dua pusaran saling bertemu—Boyo Pethuk—dianggap kurang menguntungkan. Ada pula pusaran di perut yang melintang, disebut Sabuk Rantai, dipercaya menandakan kekuatan fisik—atribut ideal bagi kuda pacuan.
“Ilmu titen bukan mitos kosong. Kalau kita padukan dengan sains, hasilnya luar biasa. Kita jadi tahu kapan harus mendekat, dan kapan harus memberi ruang pada kuda,” jelasnya.
Dengan pelatihan ini, relawan tak lagi sekadar pemegang kendali kekang, melainkan penjaga harmoni antara manusia dan satwa. Komunitas Kekandhangan Banyuraden telah menunjukkan bahwa pelestarian budaya tak harus mengorbankan kenyamanan makhluk hidup yang terlibat di dalamnya.
Sebuah pesan kuat lahir dari Gamping: bahwa cinta pada tradisi bisa sejalan dengan rasa hormat pada kehidupan lain—bahkan dari sepasang mata kuda yang diam, tapi berbicara banyak.























