oleh

BNN Gerebek Rumah Produksi Obat Terlarang di Bandung

Headline.co.id (Bandung) ~ Badan Narkotika Nasional (BNN) menggerebek rumah yang menjadi tempat produksi narkotika, Minggu (23/2) sore. Rumah yang digunakan produksi tersebut beralamatkan di Jalan Cingised Komplek Pemda RT 03 RW 04 Kelurahan Cisaranten Endah, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, diketahui memproduksi narkotika yang diduga masuk golongan empat.

Baca juga: Kemenhub: Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bakal Lanjut ke Surabaya Via Selatan

Dalam melakukan penggerebekan dipimpin langsung oleh Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari. Hasil dari penggerebekan tersebut, petugas BNN mendapati beberapa alat produksi dan jutaan pil yang diduga narkotika tersebut.

Dalam rumah tersebut terdapat dua alat produksi yang berada di ruangan depan dan satunya lagi berada di paling belakang. Petugas juga terlihat memeriksa beberapa orang yang diduga operator dari pabrik rumahan tersebut.

Rumah tersebut diduga sebagai pabrik pembuatan pil Paracetamol, Caffeine, Carisoprodol (PCC). Dari rumah tersebut petugas BNN mengamankan sebanyak tujuh tersangka.

Terlihat ada lima orang yang menggunakan baju tahanan BNN, diantaranya adalah  Iwan Ridwan alias Japra yang berperan sebagai pengawas di sekitar rumah, lalu Marfin alias Vino, yang mengedarkan narkotika tersebut. Kemudian Sukaryo yang berperan sebagai pemilik rumah dan juga berperan sebagai orang yang mengambil bahan pembuatan pil narkotika. Kemudian dua orang lainnya bernama Budi dan seseorang yang kerap dipanggil Pak Haji, yang berperan sebagai pembuat narkotika.

Ketua RT 03 Leni Hapsari (45) mengaku tak curiga dengan rumah dengan pagar tembok bercat putih merah tersebut. Pemilik rumah yang belum diketahui identitasnya itu, kata dia tak pernah melapor. “Tak curiga. Kondisi rumahnya selalu tertutup dan sepi,” kata dia.

baca juga : Tagar #PecatSittiHikmawatty Mencuat, Sitti Hikmawatty Minta Maaf

“Saya hanya menjual. Biasanya ke Jakarta menjualnya. Untuk harga saya jual Rp2 juta satu dus dan dapat untuk 1 juta,” ujar Marfin, salah seorang tersangka.

Sementara Sukaryo mengatakan pabrik rumahan ini sudah berjalan selama dua bulan. Dalam satu hari, pabrik rumahan itu dapat membuat 200 butir pil yang diduga narkotika.

Untuk mendapatkan bahan baku, Aryo mengatakan ia mendapat kiriman dari seseorang yang tidak diketahui identitasnya.

“Sehari 200 pil, itu dua-dua. Satu dusnya dijual Rp1 juta,” kata pria yang kerap di panggil Aryo.

Pil yang diduga narkotika ini, lanjut Aryo, jika mengonsumsinya dapat memberikan rasa bugar terhadap tubuh penggunanya.

“Untuk jenisnya belum diketahui. Informasi di lapangan, masih ada barang buktu di luar tempat ini. Kita akan sampaikan besok untuk detailnya,” kata Arman Depari, di sela-sela pengerebekan.

baca juga: Pembina Pramuka Sekaligus Guru Olahraga SMPN 1 Turi Ditetapkan Sebagai Tersangka

Sementara itu, warga yang berada di lokasi tidak menyangka rumah itu menjadi pabrik narkotika. Ketua RT 3 Leni (46) mengaku tempat tersebut seringkali terlihat sepi dari aktivitas sehingga warga setempat tidak mencurigai apapun.

“Terkejut dan enggak curiga. Biasanya sepi aja,” kata dia di lokasi.

 

Komentar

News Feed